Friday, February 22, 2013

PERTANIAN INDONESIA DI MASA DEPAN

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia sejak tahun 1997 telah menggoyahkan stabilitas perekonomian. Disaat peranan sektor riil dan industri melemah, sektor pertanian merupakan satu-satunya sektor yang terbukti masih dapat memberikan kontribusi pada perekonomian nasional. Untuk meningkatkan peranan sektor pertanian dimasa depan, dibutuhkan data pertanian yang lengkap dan akurat yang dapat dijadikan acuan bagi pemerintah dalam merumuskan kebijakan pembangunan pertanian. data yang diperoleh dari pelaksanaan Sensus Pertanian dapat memenuhi keperluan tersebut. Di perlukannya data-data menyakut sektor pertanian indonesia sangat penting dalam menentukan struktur pertanian indonesia yang jelas. Karena itu BPS sangat mengharapkan bantuan dan dukungan dari semua pihak agar pelaksanaannya berjalan lancar dan hasilnya benar-benar dapat dimanfaatkan.
Struktur perekonomian Indonesia sudah bergeser dari sektor pertanian ke sektor industri. Meskipun demikian, sektor pertanian masih mempunyai peranan penting dalam pembangunan ekonomi. Dilihat dari kontribusinya dalam pembentukan PDB pada tahun 2002, sektor ini menyumbang sekitar 17,3%, menempati posisi kedua sesudah sektor industri pengolahan.
Walaupun begitu pemerintah saat ini sudah mulai sadar bahwa pertanian indonesia harus ditingkatkan dan di utamakan mengingat isu-isu tentang krisis pangan global yang saat ini. Kemampuan untuk memenuhi kebutuhan pangan kita sendiri saat ini relatif sedang menurun dengan sangat besar. Dan pada waktu ini, indonesia berada pada keadaan Rawa Pangan. Bukan dikarenakan tidak adanya pangan tetapi karena pangan untuk indonesia sudah sangat tergantung dari supply luar negeri. Bahkan ketergantungannya pun semakin besar. Pasar-pasar pangan yang kita miliki diincar oleh produsen luar negri yang tidak menginginkan indonesia maju dalam memiliki kemandirian di bidang pangan indonesia.
Indonesia terus bersaing dan bahkan bekerja sama dengan luar negri dalam mengatasi krisis pangan global.
Keberhasilan pembangunan di sektor pertanian di suatu negara harus tercerminkan oleh kemampuan negara tersebut dalam swasembada pangan, atau paling tidak ketahanan pangan. Di Indonesia sendiri, ketahanan pangan merupakan salah satu topik yang sangat penting, bukan saja dilihat dari nilai-nilai ekonomi dan sosial, tetapi masalah ini mengandung konsukwensi politik yang sangat besar. Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi terhadap kelangsungan suatu kabinet pemerintah atau stabilitas politik di dalam negeri apabila Indonesia terancam kekurangan pangan atau kelaparan. Bahkan di banyak negara, ketahanan pangan sering digunakan sebagai alat politik bagi seorang (calon) presiden untuk mendapatkan dukungan dari rakyatnya. Ketahanan pangan bertambah penting terutama karena saat ini Indonesia merupakan salah satu anggota dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Artinya, di satu pihak, pemerintah harus memperhatikan kelangsungan produksi pangan di dalam negeri demi menjamin ketahanan pangan, namun, di pihak lain, Indonesia tidak bisa menghambat impor pangan dari luar. Dalam kata lain, apabila Indonesia tidak siap, keanggotaan Indonesia di dalam WTO bisa membuat Indonesia menjadi sangat tergantung pada impor pangan, dan kondisi ini sangat mengancam ketahanan pangan di dalam negeri.
Walaupun pada prinsipnya harus menggerakan ketahanan pangan di negara, tidak harus berarti swasembada pangan melainkan impor yang terjamin juga menentukan ketahanan pangan di dalam negara sendiri. Namun demikian, idealnya, ketahanan pangan didukung sepenuhnya oleh kemampuan sendiri dalam memproduksi pangan yang dibutuhkan oleh pasar domestik. Karena risiko terlalu tergantung pada impor adalah apabila harga impor meningkat sehingga mengakibatkan inflasi di dalam negeri atau negara pengekspor menghentikan ekspornya karena alasan politik atau lainnya.
Kebutuhan pangan di indonesia sulit di prediksikan untuk keadaan di tahun yang akan datang. bahkan belum ada orang yang mengetahui persis berapa pangan yang di butuhkan untuk negara ini. Kita hanya bisa mengambil data data dari tahun sebelumnya. Dan menghasilkan sebuah prediksi di tahun mendatang. Yaitu produksi dari kebutuhan beras pada tahun 2010 diperkirakan 32,65 juta ton dan 36,77 juta ton beras, sehingga terjadi defisit sekitar 4,12 juta ton beras. Demikian pula untuk tahun 2015 dan 220 di prediksi terjadi kekurangan beras sebanyak 5,8 juta ton pada tahun 2015 dan meningkat menjadi 7,49 juta ton beras pada tahun 2020. Untuk menghasilkan padi sebanyak itu di perlukan luas panen sekitar 13.500-15.000 ha llahan sawah yang masih luas sekitar 9.000-10.000 ha jika di amsumsikan IP 150%.
Dengan demikian situasi ekonomi semakin memburuk dan ada yang bertindak melakukan hal-hal yang bertentangan untuk pertanian berkelanjutan. Salah satu contohnya adalah dengan memaksa produktivitas tinggi dengan pupuk kimia dan pestisida yang kemudian menyebabkan degradasi kualitas lahan dan kemudian pun bisa mendorong menjual lahan-lahannya. Karena kurangnya pengetahuan atas informasi-informasi. Perbandingan nilai tukar lahan antara sebagai pertanian dan sektor lain sungguh tidak seimbang, sehingga tidak ada penahanan untuk setia terhadap pertanian. Situasi semacam ini secara akumulatif akan mengkronis mempercepat pelebaran selisih kebutuhan dan ketersediaan pangan dan impor sebagai bentuk penanganannya menjadi pengunci struktur kemiskinan petani dan penghilangan kemampuan berdaulat.
Menurut Sunday Herald (12/3/2008), krisis pangan kali ini menjadi krisis global terbesar abad ke-21, yang menimpa 36 negara di dunia, termasuk Indonesia. Krisis pangan bisa dalam dua arti yakni keterbatasan stok atau kualitas yang rendah. Dalam teori Malthus, pengertian krisis pangan adalah dalam arti persediaan terbatas sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan pangan bagi semua penduduk dunia .
Dengan demikian indonesia sedang marak-maraknya begegas memikirkan sektor pertanian yang bisa memenuhi kebutuhan di masa mendatang. sehingga pemerintah mengadakan program kesejahteraan untuk petani Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing masyarakat pertanian, terutama petani yang tidak dapat menjangkau akses terhadap sumberdaya usaha pertanian. Termasuk memberikan penawasan penyuluhan terhadap petani kecil maupun besar dan pendidikan pelatihan sumber daya manusia pertanian. Peningkatan tekhnologi pertanian karena teknologi sekarang lebih pentig untuk persediaan produk pangan dan produk-produk pertanian dunia. Dan indonesia berkerjasama dengan luar negri menanggulangi kelaparan dunia. Sbagai yang di andalkannya yaitu pembangunan bio-energi yang tidak mengancam ketahanan pangan dan berkompetisi dengan bahan pangan dan mempromosikan generasi kedua revolusi hijau yang lebih ramah lingkungan untuk meningkatan produksi pertanian dan pangan serta mempromosikan strategi untuk penanggulangan dan adaptasi terhadap perubahan iklim global. Semoga saja di tahun yang akan datang indonesia mampu menghadapi krisis pangan

Recent Posts