Pusat Pertanian | Peternakan | Perikanan Indonesia

Indonesia adalah Negara Kaya Akan Sumber Daya Alam yang Luar Biasa

This is default featured slide 2 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

This is default featured slide 3 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

This is default featured slide 4 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

This is default featured slide 5 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

Showing posts with label Hama Penyakit Tanaman. Show all posts
Showing posts with label Hama Penyakit Tanaman. Show all posts

Tuesday, August 26, 2014

Cegah Blast agar Padi Tak Bablas

Blast merupakan salah satu penyakit penting pada lahan kering di Indonesia, terutama pada tanaman padi gogo. Tapi sejak akhir 1980-an, perkembangan penyakit ini kian mengganas.

Apa sebabnya? Penyakit blas yang semula hanya menyerang tanaman padi di lahan kering, justru mulai merambah tanaman padi di sawah irigasi. Karena itu, penyakit ini menjadi tantangan yang serius bagi petani, karena banyak ditemukan serangan penyakit blas leher pada lahan sawah irigasi.  Lebih menguatirkan penyakit ini mampu menurunkan hasil yang sangat besar pada tanaman padi.
Perlu diketahui, penyakit blas disebabkan cendawan Pyricularia grisea. Cendawan ini berkembangbiak cepat pada tanaman padi yang berjarak tanam rapat. Pada jarak tanam yang rapat memiliki kelembaban udara mikro yang tinggi. Kecepatan pertumbuhan cendawan P. grisea  juga makin tinggi jika pemupukan urea berlebihan.
Kini luas serangan penyakit blas menduduki posisi kelima. Rata-rata luas serangan penyakit blas dalam kurun waktu 10 tahun terakhir mencapai 9.778 ha/tahun. Pada tahun 2005, tanaman padi varietas Fatmawati seluas 500 ha di Tulang Bawang, Lampung, bablas (puso) terserang penyakit ini. Bahkan pada varietas rentan, serangan blas leher dapat mencapai 90% dan menyebabkan kehilangan hasil padi mencapai 50-90%.
Sebaran Penyakit Blas
Data Kementerian Pertanian, selama ini daerah endemik penyakit blas di Indonesia adalah Lampung, Sumatera Selatan, Jambi, Sumatera Barat, Sulawesi Tengah, Sulawesi Tenggara dan Jawa Barat. Penyakit blas, terutama blas leher menjadi tantangan yang lebih serius karena banyak ditemukan pada beberapa varietas padi sawah di Jawa Barat (Sukabumi, Kuningan), Lampung (Tulang Bawang, Lampung Tengah) dan Bali (Tabanan). Bahkan kini penyakit blas dijumpai juga pada tanaman padi pasang surut dan rawa di daerah Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
Penyebaran penyakit blas sangat luas dan bersifat destruktif. Apalagi jika kondisi lingkungan menguntungkan. Penyebaran yang demikian luas karena penyakit ini dapat menyebar melalui benih, angin, sisa tanaman padi di lapangan dan tanaman inang lainnya, terutama dari golongan graminae/rerumputan.
Jamur P. grisea akan berkecambah pada kondisi optimum. Cendawan P. grisea dapat menjadi patogen pada beberapa tanaman penting lainnya. Misalnya, pada gandum, sorgum dan serealia lainnya. Bahkan lebih dari 40 spesies gulma rumput-rumputan dan gulma lainnya.
Kenali Gejala Penyakit
Cendawan P. grisea dapat membentuk bercak pada daun padi, buku batang, leher malai, cabang malai, bulir padi dan kolar daun. Bercak pada pelepah daun jarang ditemukan. Penyakit blas menimbulkan dua gejala khas, yaitu blas daun dan blas leher.
Bentuk khas dari bercak blas daun adalah belah ketupat dengan dua ujungnya kurang lebih runcing. Bercak yang telah berkembang, bagian tepi berwarna coklat dan bagian tengah berwarna putih keabu-abuan.
Bercak bermula kecil berwarna hijau gelap, abu-abu sedikit kebiru-biruan. Bercak ini terus membesar pada varietas yang rentan, khususnya bila dalam keadaan lembab. Bercak yang telah berkembang penuh mencapai panjang 1–1,5 cm dan lebar 0,3–0,5 cm dengan tepi berwarna coklat.
Bercak pada daun yang rentan tidak membentuk tepi yang jelas. Bercak tersebut dikelilingi warna kuning pucat (halo area). Terutama pada lingkungan yang kondusif, seperti keadaan lembab dan ternaungi. Perkembangan bercak juga dipengaruhi kerentanan varietas dan umur bercak itu sendiri.
Bercak tidak akan berkembang dan tetap seperti titik kecil pada varietas yang tahan. Hal ini karena proses perkembangan konidia dari jamur P. grisea dalam jaringan inangnya terhambat. Pada lingkungan yang kondusif, bercak-bercak tersebut dapat menyatu dan menyebabkan rusaknya sebagian besar daun. Blas daun menyebabkan kematian seluruh tanaman pada varietas rentan yang masih muda sampai stadia anakan.
Sedangkan blas leher berupa bercak coklat kehitaman pada pangkal leher mengakibatkan leher malai. Akibatnya, tidak mampu menopang malai dan patah karena tangkai malai membusuk.
Jika infeksi terjadi sebelum pengisian bulir dapat menyebabkan kehampaan bulir tanaman padi. Tidak hanya pada bagian daun dan malai, bagian batang juga dapat terinfeksi sehingga batang padi membusuk dan rebah. Serangan P. grisea pada kolar daun (daerah pertemuan antara helaian daun dan pelepah) menimbulkan gejala blas kolar berwarna coklat. Blas kolar yang terjadi pada daun bendera atau pada daun kedua terakhir berpengaruh nyata pada produksi padi.

Thursday, February 28, 2013

Hama Dan Penyakit Tanaman Durian

Durian merupakan salah satu buah yang paling di gemari,hal ini di sebabkan  oleh rasanya yang lezat dan ciri khas bau dari durian tersebut.Maka dari itu banyak para petani yang membudidayakannya.Dan dari budidaya pun tak lepas juga dari hama dan penyakit dari tanaman durian tersebut yang mungkin sebagian para petani durian belum tahu dan belum memahami bagaimana teknik untuk mengatasi hama dan penyakit tersebut.Berdasarkan dari itu lah akan saya kupas tentang Hama dan penyakit tanaman durian dan cara penanggulangannya dengan menggunakan Pupuk Organik Nasa dan Pestisida Organik Nasa yang telah terbukti mampu membantu para petani durian dalam meningkatkan produksi panen  tanaman durian mereka.Adapun Hama dan Penyakit pada tanaman durian sbb : 



HAMA
Penggerek buah
  • Ciri :  telur diletakkan pada kulit buah dan dilindungi oleh jaring-jaring mirip rumah laba-laba. Larva yang telah menetas dari telur langsung menggerek dan melubangi dinding-dinding buah hingga masuk ke dalam. Larva tersebut tinggal di dalam buah sampai menjadi dewasa. Buah yang diserang kadang-kadang jatuh sebelum tua.
  • Penyebaran : serangga penggerek buah menyebar dengan cara terbang dari pohon durian yang satu ke pohon lainnya. Serangga penggerek buah ini bertelur pada buah durian yang dihinggapinya. Kegiatan bertelur ini dilakukan secara periodik setiap menjelang musim kemarau.
Lebah mini
  • Ciri : hama ini berukuran kecil, tubuhnya berwarna coklat kehitaman dan sayapnya bergaris putih lebar. Setelah lebah menjadi merah violet, ukuran panjangnya menjadi 3,5 cm. Pada fase ulat (larva), hama ini menyerang daun-daun durian muda. Selama hama tersebut mengalami masa istirahat (bentuk kepompong), mereka akan menempel erat pada kulit buah. Setelah menjadi lebah serangga ini mencari makan dengan cara menggerek ranting-ranting muda dan memakan daun-daun muda.
Ulat penggerek bunga ( Prays citry )
  • Ulat ini menyerang tanaman yang baru berbunga, terutama bagian kuncup bunga dan calon buah.
  • Ciri: ulat ini warna tubuhnya hijau dan kepalanya merah coklat, setelah menjadi kupu-kupu berwarna merah sawo agak kecoklatan, abu-abu dan bertubuh langsing.
  • Gejala: kuncup bunga yang terserang akan rusak dan putiknya banyak yang berguguran. Demikian pula, benang sari dan tajuk bunganya pun rusak semua, sedangkan kuncup dan putik patah karena luka digerek ulat. Penularan ke tanaman lain dilakukan oleh kupu-kupu dari hama tersebut.
Kutu loncat durian
  • Ciri: serangga berwarna kecoklatan dan tubuhnya diselimuti benang-benang lilin putih hasil sekresi tubuhnya; bentuk tubuh, sayap dan tungkainya mirip dengan kutu loncat yang menyerang tanaman lamtoro.
  • Gejala: kutu loncat bergerombol menyerang pucuk daun yang masih muda dengan cara menghisap cairan pada tulang-tulang daun sehingga daun-daun akan kerdil dan pertumbuhannya terhambat; setelah menghisap cairan, kutu ini mengeluarkan cairan getah bening yang pekat rasanya manis dan merata ke seluruh permukaan daun sehingga mengundang semut-semut bergerombol.
Penyakit
Phytopthora parasitica dan Pythium complectens
  • Penyebab : Pythium complectens, yang menyerang bagian tanaman seperti daun, akar dan percabangan.
  • Penularan dan penyebab : penyakit ini menular dengan ke pohon lain yang berdekatan. Penularan terjadi bila ada akar yang terluka. Penularan terjadi bersama-sama dengan larutnya tanah atau bahan organik yang terangkut air.
  • Gejala: daun durian yang terserang menguning dan gugur mulai dari daun yang tua, cabang pohon kelihatan sakit dan ujung-ujungnya mati, diikuti dengan berkembangnya tunas-tunas dari cabang di bawahnya. Kulit di atas permukaan tanah menjadi coklat dan membusuk. Pembusukan pada akar hanya terbatas pada akar-akar sebelah bawah, tetapi dapat meluas dari ujung akar lateral sampai ke akar tunggang. Jika dilihat dari luar akar yang sakit tampak normal, tetapi jaringan kulitnya menjadi colat tua dan jaringan pembuluh menjadi merah jambu.
Kanker bercak
  • Penyebab : Pythium palvimora, terutama menyerang bagian kulit batang dan kayu. Penyebaran oleh spora sembara bersamaan dengan butir-butir tanah atau bahan organik yang tersangkut air. Penyebaran penyakit ini dipacu oleh curah hujan yang tinggi dalam cuaca kering. Jamur dapat tumbuh dengan baik pada suhu antara 12-35°C.
  • Gejala: kulit batang durian yang terserang mengeluarkan blendok (gum) yang gelap; jaringan kulit berubah menjadi merah kelam, coklat tua atau hitam; bagian yang sakit dapat meluas ke dalam sampai ke kayu; daun-daun rontok dan ranting-ranting muda dari ujung mulai mati.
Jamur upas
  • Gejala: pada cabang-cabang dan kulit kayu terdapat benang-benang jamur mengkilat seperti sarang laba-laba pada cabang-cabang. Jamur berkembang menjadi kerak berwarna merah jambu dan masuk ke dalam kulit dan kayu sehingga menyebabkan matinya cabang.

Penyakit yang Menyerang Tanaman Durian

Penyakit yang Menyerang Tanaman Durian

Umumnya penyakit yang menyerang tanaman durian disebabkan oleh cendawan. Perlindungan tanaman terhadap penyakit dapat dilakukan dengan memilih varietas tanaman yang resiten terhadap penyakit; menanam tanaman yang disukai oleh penyakit untuk mengalihkan serangan; menggunakan pestisida dan membuat kondisi lingkungan yang tidak disukai oleh patogen penyakit. Beberapa penyakit yang menyerang tanaman durian adalah :
1. Kanker Batang dan Mati Pucuk, penyakit yang disebabkan oleh cendawan Phytophthora palmifora ini merupakan penyakit utama yang paling ditakuti oleh petani durian karena dapat menyebabkan kematian tanaman hingga 50%. Tanaman yang terinfeksi ditandai dengan adanya luka di kulit batang bagian bawah dekat tanah. Luka tersebut mengeluarkan lendir berwarna merah, batang tanaman membusuk, kayunya terbuka dan warna merah kecoklatan dengan bintik merah atau ungu apabila serangan sudah parah. Setelah batang tanaman busuk, pucuk-pucuk tanaman akan mengering, daun layu, kemudian rontok dan akhirnya tanaman mati. Cendawan ini biasanya menyerang tanaman yang digunakan untuk batang bawah. Pengendalian dilakukan dengan menjaga sanitasi kebun, memperlebar jarak tanaman, menekan gulma, memangkas tanaman juga dengan menyemprotkan fungisida pada tanaman atau dengan mengoleskannya pada batang yang sudah luka dan kemudian menutupnya dengan parafin.

2. Busuk Akar, disebabkan oleh cendawan Pythium vexans dan cendawan Fusarium sp, menyerang tanaman yang masih berupa bibit maupun tanaman dewasa. Serangan ditandai dengan bercak nekrotik yang dimulai pada ujung akar lateral, jika akar dibelah di bagian korteks akan tampak warna coklat dan dibagian yang berkayu akan tampak warna merah muda dengan bercak coklat . Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan menyemprotkan fungisida berbahan aktif metalaxyl, fosetyl aluminium atau etridiazole sesuai dengan dosis yang tertera di kemasan. Penyakit busuk akar dapat menyebabkan kematian langsung pada pohon, tanaman yang sudah terserang dan mati sebaiknya dimusnahkan dengan cara dibakar dan bekas lubang tanaman ditaburi kapur. Pada musim hujan sebaiknya sistem drainase diperbaiki untuk mencegah kelebihan air dan mengurangi resiko serangan.

3. Bercak Daun, disebabkan oleh cendawan Colletorichum durionis. Gejala penyakit ini ditandai dengan timbulnya bercak-bercak besar kering pada daun tanaman yang akhirnya menjadi lubang. Serangan ini dapat menyebabkan terganggunya fotosintesis tanaman. Pengendalian penyakit ini dilakukan dengan memotong bagian tanaman yang terserang atau dapat menyemprotkan fungisida yang berbahan aktif tembaga sep[erti Dhitane M-45 sesuai dengan dosis yang tertera di kemasan.

4. Penyakit Jamur Upas, sering disebut dengan penyakit pink disease. Gejala yang ditimbulkan oleh serangan penyakit jamur upas dalah berupa keluarnya cairan berwarna kuning dari bagian batang yang terserang. Cairan ini diselimuti dengan benang-benang jamur dengan warna mengkilap berbentuk seperti sarang laba-laba. Benang-benang tersebut akan berubah warna menjadi merah muda atau pink apabila pada kelembaban tinggi. Serangan cendawan ini dapat menyebabkan kematian cabang. Penanggulangan dapat dilakukan dengan mengoleskan fungisida berbahan aktif tembaga di bagian yang terserang, mengurangi kelembaban di areal penanaman, memotong bagian yang terserang dan menyemprot tanaman dengan fungisida seperti Dhitane M-45 atau Vitigran Blue sesuai dosis yang tyertera dikemasan.

5. Akar Putih, disebabkan serangan cendawan Rigodoporus lignosus dan Basidiomucetes dari genus Polyporaceae. Akibat dari serangan cendawan ini daun menjadi kuning, kemudian coklat, mengkerut dan akhitnya gugur. Pencegahan penyakit ini dilakukan dengan membuang semua tanaman inang cendawan dari areal kebun ketika pembukaan lahan. Umumnya yang menjadi tanaman inang cendawan ini antara lain adalah karet, albasia, cabai, lada, singkong, kopi, rambutan, belimbing, mangga dan pepaya. Pengendalian dilakukan dengan melakukan penyemprotan pada tanaman yang terserang dan tanaman inang dengan fiungisida berbahan aktif tridemorph, triadimefon, propiconazole atau triazole dengan dosis sesuai petunjuk di kemasan.

6. Busuk Buah, penyakit busuk buah disebabkan oleh cendawan Phytophthora palmivora, gejala serangan penyakit ini ditandai dengan adanya bercak-bercak kebasahan berwarna coklat kehitaman dikulit buah. Setelah beberapa lama buah akan kebasahan dan bagian y6ng diserang membentuk miselium dan spongaria berwarna putih. Pengendalian penyakit dilakukan dengan menyemprotkan fungisida dibarengi dengan insektisida untuk membunuh serangga dan siput yang menjadi vektor cendawan. Buah yang telah terinfeksi segera dibuang dan dimusnahkan.

7. Penyakit Fisiologis, umumnya menyerang bagian daun dan buah, yang disebabkan oleh kekurangan salah satu unsur mikro, pengaruh cuaca dan pengaruh agroklimat seperti jenis tanah yang tidak cocok, atau ketinggian lokasi yang tidak tepat). Beberapa penyakit fisiologis yang menyerang tanaman durian adalah : ujung daun mengering, berwarna coklat, umumnya karena kekurangan unsur mikro Zn atau kekurangan air. Penanggulangan dilakukan dengan menyemprotkan unsur mikro Zn atau melakukan penyiraman sampai kebutuhan air terpenuhi. Wet care, menyerang pada musim hujan, penyebabnya adalah kelebihan air atu kekurangan unsur kalium. Buah yang terserang lembek dan basah, penangulangan dilakukan dengan menyemprotkan kalium dan mencegah kelebihan air dengan membuat saluran drainase, Daging buah keras, ditandai mengerasnya beberapa bagian buah durian, warna buah lebih putih, pucat, kering dan rasanya hambar. Penyakit ini terjadi diakibatkan buah memiliki jumlah bii yang banyak, atau kekurangan kalium dan magnesium, penyakit ini baru dapat diketahui setelah buah dibelah. Tip Burn, diduga disebabkan karena proses masaknya buah terlalu cepat serta kekurangan air dan nutrisi pada saat pembentukan buah. Akibat serangan penyakit ini dibagian ujung daging buah terdapat titik atau bercak coklat kehitaman.

Thursday, January 31, 2013

Trichoderma sp. sebagai Pupuk Biologis Dan Biofungisida

Salam Pertanian!! Ketergantungan kita terhadap bahan-bahan kimia (pupuk kimia) apalagi bahan yang bersifat sebagai racun (insektisida, fungisida dan bakterisida) harus segera kita tinggalkan. Kita harus menggali bahan-bahan disekitar kita yang bisa kita manfaatkan untuk mengganti bahan-bahan kimia tersebut. Sudah saatnya kita kembali ke alam. Banyak mikroorganisme yang dapat kita manfaatkan untuk proses kelestarian lingkungan kita.
Salah satu mikroorganisme fungsional yang dikenal luas sebagai pupuk biologis tanah dan biofungisida adalah jamur Trichoderma sp. Mikroorganisme ini adalah jamur penghuni tanah yang dapat diisolasi dari perakaran tanaman lapangan. Spesies Trichoderma disamping sebagai organisme pengurai, dapat pula berfungsi sebagai agen hayati dan stimulator pertumbuhan tanaman. Beberapa spesies Trichoderma telah dilaporkan sebagai agensia hayati seperti T. Harzianum, T. Viridae, dan T. Konigii yang berspektrum luas pada berbagai tanaman pertanian. Biakan jamur Trichoderma dalam media aplikatif seperti dedak dapat diberikan ke areal pertanaman dan berlaku sebagai biodekomposer, mendekomposisi limbah organik (rontokan dedaunan dan ranting tua) menjadi kompos yang bermutu. Serta dapat berlaku sebagai biofungisida. Trichoderma sp dapat menghambat pertumbuhan beberapa jamur penyebab penyakit pada tanaman antara lain Rigidiforus lignosus, Fusarium oxysporum, Rizoctonia solani, Sclerotium rolfsii, dll.
Sifat antagonis Trichoderma meliputi tiga tipe :
  1. Trichoderma menghasilkan sejumlah enzim ekstraseluler beta (1,3) glukonase dan kitinase yang dapat melarutkan dinding sel patogen
  2. Beberapa anggota trichoderma sp menghasilkan toksin trichodermin. Toksin tersebut dapat menyerang dan menghancurkan propagul yang berisi spora-spora patogen disekitarnya
  3. Jenis Trichoderma viridae menghasilkan antibiotik gliotoksin dan viridin yang dapat melindungi bibit tanaman dari serangan penyakit rebah kecambah
Pupuk biologis dan biofungisida Trichoderma sp dapat dibuat dengan inokulasi biakan murni pada media aplikatif, misalnya dedak. Sedangkan biakan murni dapat dibuat melalui isolasi dari perakaran tanaman, serta dapat diperbanyak dan diremajakan kembali pada media PDA (Potato Dextrose Agar). Isolasi banyak dilakukan oleh kalangan peneliti maupun produsen pupuk, tetapi masih terlalu merepotkan untuk diadopsi oleh petani. Sebagai petani, untuk lebih efisiennya dapat memproduksi pupuk biologis yang siap aplikasi saja, sehingga hanya perlu membeli dan memperbanyak sendiri biakan murninya dan diinokulasikan pada media aplikatif. Atau jika menginginkan kepraktisan dapat membeli pupuk yang siap tebar untuk setiap kali aplikasi.
Dari beberapa literatur yang pernah saya baca dengan penambahan pupuk biologis Trichoderma sp akan meningkatkan efisiensi pemupupukan. Pada tanah yang tandus pemberian pupuk organik Trichoderma sp dan pupuk kimia secara bersamaan akan memberikan hasil yang maksimal daripada pemberian pupuk organik atau pupuk kimia secara terpisah walaupun dengan jumlah yang banyak. Dengan pemberian pupuk organik akan menghemat penggunaan pupuk kimia.
Biasanya penyakit layu dan busuk pangkal batang pada tanaman disebabkan oleh jamur fusarium sangat sulit dikendalikan dengan fungisida kimia. Oleh karena itu tidak ada salahnya kita mencoba mengaplikasikan pupuk biologis dan biofungisida Trichoderma sp pada tanaman kita untuk mencegah penyakit akar dan busuk pangkal batang yang dapat menyebabkan layu tanaman.
Sumber : Gerbang Pertanian

Friday, December 28, 2012

Halau Penggerek Buah Kakao

Kakao mulus bebas PBKPada 2002 Conopomorpha cramerella merusak ribuan hektar lahan kakao. Kerugian akibat hama penggerek buah kakao (PBK) itu mencapai ratusan juta rupiah. Itu sebabnya pada 2003 muncul teknik sarungisasi. Teknisnya, buah kakao diselubungi plastik transparan seperti memakai sarung. Aplikasinya praktis: hanya membutuhkan pipa PVC, plastik transparan, dan karet gelang.
Pipa PVC untuk memasangkan plastik. Pekebun menggunakan pipa berdiameter 10 cm sepanjang 3—4 m agar bisa menjangkau buah yang tinggi. Boleh juga diganti bambu yang seukuran pipa, sehingga buah kakao bisa masuk. Plastik harus transparan seperti plastik es batu untuk memudahkan pengamatan pertumbuhan buah dan waktu panen. Ukurannya 25 cm x 17 cm dengan kedua ujung berlubang. Potongan-potongan plastik itu disusun rapi di bambu. Tiap plastik diikat karet gelang di salah satu lubang. Beri jarak antarplastik sekitar 2 cm. Plastik bisa digunakan 2—3 kali musim tanam.

Penyarungan mesti tepat waktu. Pilih kakao sebesar batu baterai atau seukuran jempol orang dewasa. Biasanya ukuran itu dicapai 3—4 bulan setelah pembungaan. Bila terlalu dini, tangkai buah masih lemah dan gampang patah. Sebaliknya, buah terlalu besar mungkin sudah mengandung telur hama di kulitnya. Lakukan penyarungan pada pukul 07.00--11.00. Masukkan buah ke dalam pipa atau bambu hingga tangkai buah tidak terlihat. Dengan menggunakan tongkat kayu yang ujungnya dipotong setengah lingkaran, dorong plastik secara perlahan-lahan ke arah buah. Saat plastik terlepas dari bibir pipa, otomatis karet gelang mencengkeram. tangkai buah. Plastik pun terpasang sempurna menyarungi buah.***

Monday, December 24, 2012

Negeri Berlimpah Herbal

Kipait Tithonia diversifolia lebih banyak dikenal sebagai bahan insektisida nabati. Di balik keampuhannya memberantas hama, pahitan juga ampuh membantu mengendalikan kadar gula darahIndonesia kaya tanaman obat. Tanaman untuk racun ikan dan pembasmi hama pun ternyata dapat membantu mengatasi penyakit.
Inilah yang Abutiyus lakukan saat menderita diare yang menyebabkan feses berdarah. Ia memetik satu buah kemenai Croton triglium yang tumbuh di halaman rumahnya di Desa Temula, Kecamatan Nyuwatan, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur. Warga suku Dayak Benuaq itu mengupas buah, lalu mengambil sebutir biji. Ia menumbuk biji hingga halus, kemudian menyantapnya menggunakan sendok sekali sehari. “Biji kemenai tumbuk itu rasanya pedas,” kata pria kelahiran 17 Juni 1936 itu. Namun, rasa pedas itu yang ia yakini berefek menyembuhkan diare. Efek penyembuhan biasanya terasa setelah 2 hari mengonsumsi.
Mengonsumsi biji kemenai sebetulnya ibarat mempertaruhkan nyawa. Masyarakat suku Dayak Benuaq juga kerap menggunakan buah kemenai untuk racun ikan. Yuningsih dan Damayanti R, peneliti dari Balai Besar Penelitian Veteriner di Bogor, Jawa Barat, dalam penelitiannya yang diterbitkan pada jurnal Berita Biologi pada 2007 menyebutkan, tanaman kamalakian-sebutan kemenai dalam Bahasa Sunda-itu pernah membunuh seekor gajah di Bengkulu pada 2006. Hewan bertubuh tambun itu meregang nyawa akibat pendarahan di usus.
Turun-temurun
Hasil pemeriksaan sampel isi lambung gajah itu mengandung phorbol 13-decanoate atau phorbol ester, salah satu senyawa aktif yang terkandung dalam biji kemenai. Senyawa phorbol ester yang paling tinggi konsentrasinya adalah phorbol 12 tiglate-decanoate. Senyawa itu biasanya terdapat dalam bentuk minyak dan dapat dimanfaatkan sebagai pestisida nabati.
Kebiasaan Abutiyus mengobati diare yang tak lazim itu bukanlah aksi coba-coba. “Dalam masyarakat tradisional pengetahuan tentang pengobatan alam itu biasanya diwariskan secara turun-temurun,” ujar ahli etnobiologi Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuian Indonesia (LIPI), Dr Ir Yohanes Purwanto. Buktinya masyarakat suku Dayak Benuaq yang tinggal di luar Kecamatan Nyuwatan juga memiliki pengetahuan yang sama tentang khasiat kemenai sebagai obat.
Contohnya warga suku Dayak Benuaq di Kecamatan Muaralawa, seperti dilaporkan Dr Medi Hendra SSi MSi dari Jurusan Biologi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Mulawarman, dalam disertasinya. Warga di sana juga kerap memanfaatkan pucuk dan akar kemenai untuk mengobati gatal-gatal, sakit gigi, sakit telinga, dan sakit lutut. Nasib mereka tak berujung seperti gajah yang meregang nyawa.
Menurut Yohanes Purwanto kebiasaan warga Dayak Benuaq itu lahir dari proses adaptasi terhadap kondisi lingkungan tempat mereka tinggal. Ketika sakit, mereka memanfaatkan aneka jenis tanaman yang lebih mudah dijumpai di sekitar mereka. Dari berbagai pengalaman empiris tentang kesembuhan, maka lahirlah pengetahuan tentang jenis-jenis tanaman yang berkhasiat obat. Mereka lalu mewariskan pengetahuan itu secara turun-temurun. Hasil penelitian Medi Hendra setidaknya ada 240 spesies tanaman obat yang kerap digunakan suku Dayak Benuaq untuk mengobati berbagai penyakit.
Pestisida alami
Kisah menggapai kesembuhan yang tak lazim seperti Abutiyus juga dialami Parjono. Untuk mengatasi penyakit diabetes tipe 2, pria asal Yogyakarta itu menyandarkan kesembuhan pada tanaman kipait Tithonia diversifolia yang banyak tumbuh di kediaman kakaknya. Ia rutin merebus tiga lembar daun berukuran sedang dalam dua gelas air hingga tersisa satu gelas. Ia mengonsumsi air rebusan setiap sore.
Para herbalis hampir tidak pernah meresepkan kipait untuk membantu menyembuhkan penyakit. “Di Batu paitan lebih populer sebagai insektisida alami,” tutur herbalis di Kota Batu, Provinsi Jawa Timur, Wahyu Suprapto. Faedah bunga matahari meksiko-sebutan lainnya-sebagai penghalau hama sudah terbukti secara ilmiah. Hasil penelitian Muhammad Taofik, mahasiswa Jurusan Kimia Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Islam Negeri (UIN) Malang, menunjukkan larutan ekstrak daun pahitan dengan konsentrasi 2,2922 ppm dapat mematikan lebih dari separuh hama tungau dari famili Eriophyidae hanya dalam waktu 72 jam. Tungau itu kerap menyerang pucuk teh.
Nasib takokak pun setali tiga uang. Tak ada yang menyangka bila sayuran yang kini mulai asing dikonsumsi itu ternyata mampu membantu mengatasi keluhan mata minus. Begitu pun beras hitam yang baru populer dua tahun belakangan ini. Beras yang kaya antioksidan itu ternyata ampuh mengatasi lemah jantung yang mematikan.
Munculnya tanaman yang tak diduga berkhasiat terhadap kesehatan itu menjadi bukti keanekaragaman tanaman obat di tanahair. Herny Emma Inonta Simbala, pengajar Jurusan Biologi Universitas Sam Ratulangi menyebutkan dalam disertasinya, Indonesia memiliki sekitar 30.000 spesies tanaman. Dari jumlah itu 7.000 spesies di antaranya merupakan tanaman obat atau 90% dari jumlah tanaman obat yang tumbuh di kawasan Asia. “Tinggal kemauan kita untuk membuktikan khasiatnya secara ilmiah,” tutur Yohanes. Pengalaman empiris seperti yang dilakoni Abutiyus bisa menjadi jalan pembuka. (Imam Wiguna)
Keterangan Foto :
  1. Kipait Tithonia diversifolia lebih banyak dikenal sebagai bahan insektisida nabati. Di balik keampuhannya memberantas hama, pahitan juga ampuh membantu mengendalikan kadar gula darah
  2. Abutiyus, warga suku Dayak Benuaq, mengonsumsi biji kemenai Croton triglium untuk mengatasi diare akut
  3. Kemenai Croton trigilum kerap dimanfaatkan suku Dayak Benuaq untuk meracun ikan
  4. Hutan menyimpan kekayaan berupa aneka jenis tanaman yang juga berkhasiat obat

Saturday, September 15, 2012

Penyakit Keriting Pada Cabe (Bag 3)

“Bule” Merajalela

img_1437.jpg
Kalau anda kebetulan sedang berjalan-jalan di sekitar kab. Magelang Jawa Tengah jangan kaget bila melihat tanaman cabai yang berdaun kuning terutama di bagian pucuknya. “Bule” begitu masyarakat daerah situ menyebutnya. Nggak tahu kapan mulainya dan siapa yang menularkan yang jelas si “bule” itu sekarang merajalela.Penyakit keriting kuning pada cabai memang sulit dikendalikan. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari golongan geminivirus. Virus ini sudah menyebar di berbagai daerah di Indonesia, baik di Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat, Bali, Lampung, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Nangroe Aceh Darussalam (NAD), Bengkulu, Kalimantan Timur dan Gorontalo. Sejak kapan virus ini menyebar tidak ada data, yang jelas akibat dari virus ini saat ini sudah menghawatirkan.
Gejala serangan virus ini berawal dari tunas tanaman yang menguning, keriting dan kaku. Umur tanaman mulai terserang tidak pasti, kadang masih kecil, masa pertumbuhan bahkan pada waktu masa generatif bisa terserang tergantung kapan terjadinya inveksi virus tersebut. Biasanya setelah virus ini menyerang  satu tanaman pada suatu hamparan maka akan cepat menular ke tanaman yang lain.  Kalau virus ini menyerang dari awal pertumbuhan maka bisa dipastikan tanaman tidak akan berbuah, tapi kalau virus tertular setelah vase generatif buah yang sudah jadi akan tetap jadi tetapi tidak ada buah baru yang muncul.
Virus ini ditularkan oleh vektor (pembawa virus). Biasanya di kalangan petani KUTU PUTIH/KUTU KEBUL (Whitefly, Bemisia tabaci Genn.) dikenal sebagai vektor virus ini. Ini bisa dilihat apabila terjadi keriting kuning di bagian bawah daun yang terserang biasanya terlihat adanya kutu yang berwarna putih. Kutu kebul ini merupakan hama pencucuk penghisap yang menghisap cairan tanaman terutama pada pucuk daun atau tunas tanaman.
Dari pustaka yang saya dapat Geminivirus merupakan virus tanaman yang banyak menimbulkan kerusakan di daerah tropik dan subtropik. Geminivirus ini mempunyai genom berupa DNA utas tunggal (single stranded/ss DNA), berbentuk lingkaran dan terselubung protein dalam virion ikosahedral kembar (gemini) dengan ukuran 18~30 nm. Virus ini diklasifikasikan dalam famili Geminiviridae yang terbagi dalam 4 genus (Mastrevirus, Curtovirus, Topovirus, dan Begomovirus) berdasarkan struktur genom, serangga vektor dan tanaman inang. Genus Mastrevirus mempunyai genom berukuran 2.6~2.8-kilo base (kb), ditularkan oleh wereng hijau (Leafhopper) ke tanaman monokotil. Genus Curtovirus merupakan virus dengan genom berukuran 2.9~3.0 kb., ditularkan juga oleh wereng hijau (Leafhopper) ke tanaman dikotil. Genus Topovirus mempunyai ukuran genom yang sama dengan Curtovirus, namun virus ini ditularkan oleh wereng pohon (Treehopper) ke tanaman dikotil. Sedangkan genus Begomovirus mempunyai genom berukuran 2.5~2.9 kb., yang menyerang tanaman dikotil dan ditularkan oleh kutu kebul (Whitefly, Bemisia tabaci Genn.). Begomovirus mempunyai spesies yang paling banyak dan menyerang banyak tanaman di bandingan 3 genus yang lainnya. Untuk membedakan virus sampai ke tingkat spesies maka mengetahui urutan sekuen DNA merupakan cara yang paling tepat.
Hasil sekuen DNA begomovirus asal tanaman cabai dari Indonesia dibandingkan dengan beberapa spesies begomovirus yang telah di ketahui di GenBank diantaranya Tomato yellow leaf curl virus (TYLCV, X15656), Tomato leaf curl virus (ToLCV, S53251), Tomato yellow leaf curl Thailand virus (TYLCTHV, X63015), Ageratum yellow vein virus (AYVV, X74516), Pepper leaf curl virus (PepLCV, AF134484), Tomato leaf curl Indonesia virus (ToLCIDV, AF189018) dan Tomato leaf curl Java virus (ToLCJAV, AB100304), menunjukkan kesamaan sekuen DNA di bawah 90%. Artinya bahwa begomovirus asal tanaman cabai dari Indonesia merupakan spesies yang berbeda dengan begomovirus yang sudah di laporkan sebelumnya. Kemudian di namakan Pepper yellow leaf curl Indonesia virus (PepYLCIDV) dan terdaftar di DDBJ (DNA Data Bank of Japan), EMBL (The European Molecular Biology Laboratory) atau GenBank dengan accession number AB189850. Secara genetik PepYLCIDV mempunyai hubungan kekerabatan yang lebih dekat dengan ToLCPHV asal Filipina di bandingkan spesies lainnya. (Sukamto, peneliti Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balitro) Bogor, Departemen Pertanian RI).
Sampai sekarang belum ditemukan obat atau zat kimia yang dapat mematikan atau menginaktifkan virus ini. Yang dapat dilakukan oleh petani hanyalah mengendalikan vektor tersebut, baik dengan pengendalian hama terpadu ataupun dengan pestisida. Pembersihan tanaman inang lain seperti tomat, rumput babandotan (Ageratum conyzoides L.), tembakau dan tanaman lain yang disukai oleh kutu kebul dapat membantu mengurangi populasi kutu tersebut. Kita harus mulai waspada apabila salah satu tanaman kita sudah terserang virus lebih baik dicabut kemudian dibuang atau di musnahkan, karena tanaman yang sakit tersebut akan menjadi inang dan akan menularkan virus tersebut ke tanaman yang lain. Dengan pengendalian kutu kebul dari tanaman muda atau mulai tanam akan membantu mengendalikan virus ini.
Kita tunggu saja apakah beberapa tahun kedepan para profesor dan orang-orang jenius di bumi ini dapat mengendalikan virus ini.

Penyakit Keriting Pada Cabe (Bag 2)

MENGENDALIKAN HAMA KERITING DAUN PADA TANAMAN CABE


Salam pertanian! Kali ini saya ingin sedikit membahas tentang tanaman cabe khususnya mengenai hama keriting daun pada tanaman cabe. Sebenarnya ada beberapa penyebab yang mengakibatkan daun tanaman cabe menjadi keriting. Supaya kita mengetahui cara mengendalikan hama yang menyebabkan gejala keriting daun cabe tersebut pasti harus didasari oleh pengetahuan tentang penyebab keriting daun cabe tersebut.
  1. Keriting daun cabe yang disebabkan oleh trips. Gejala keriting pada daun tanaman cabe sebagian besar disebabkan oleh hama trips. Gejala yang ditimbulkan oleh trips pada daun cabe adalah adanya daun yang keriting dengan bentuk lekukan yang menggulung ke atas. Biasanya serangan trips diikuti dengan gejala rontoknya bunga cabe. Pada permukaan daun bagian atas biasanya juga terdapat lapisan mengkilap seperti perak. Hama tanaman ini sangat mudah dilihat kasat mata pada bunga-bunga tanaman cabe dan didalam gulungan daun cabe, berbentuk kecil memanjang seperti semut hitam dengan warna ada yang hitam dan hijau. Binatang ini bisa bergerak cepat dan mudah meloncat.
  2. Keriting daun cabe yang disebabkan oleh tungau. Tungau menyerang tanaman cabe dengan memberikan gejala yang khas, yaitu daun yang terserang akan melengkung ke bawah dengan rapih. Serangan tungau biasanya terjadi pada daun yang ketiga sampai kebawah. Jika daun yang menggulung dibuka dan diperhatikan secara teliti maka permukaan daun bagian bawah akan terdapat binatang yang sangat lembut sekali (selembut tepung) yang bergerak secara perlahan-lahan. Warna tungau pada permukaan daun biasanya hijau muda.
  3. Keriting daun cabe yang disebabkan oleh virus. Virus pada tanaman cabe biasanya disebarkan oleh hama vektor myzus dan bemisia (kutu kebul). Jika virus menyerang pada tanaman cabe akan memberikan gejala yang bermacam-macam sesuai denga jenis virusnya. Salah satu gejala yang akibatkan oleh virus tanaman cabe adalah adanya daun tanaman cabe yang menggulung atau kita sebut keriting. Keriting daun yang disebabkan oleh virus dapat dibedakan dengan penyebab lain karena virus ini akan menyebabkan sebagian besar daun cabe menggulung. Hal ini berbeda dengan gejala yang diakibatkan oleh trips maupun tungau yang akan menggulung tanaman cabe hanya daun bagian ujung saja. Gejala keriting daun oleh Virus kadang-kadang juga dikuti oleh kerdilnya tanaman dan berubahnya warna daun.
Setelah kita mengetahui beberapa penyebab keriting daun cabe tentunya ada beberapa cara yang bisa kita lakukan untuk mencegah dan mengendalikan hama penyebab keriting tersebut:
  1. Sanitasi lingkungan dengan membersihkan gulma dilahan maupun disekitar lahan
  2. Gunakan mulsa plastik hitam perak
  3. Jarak tanam jangan terlalu rapat
  4. Kalau memungkinkan gunakan sprinkel untuk menyiram tanaman
  5. Untuk keriting daun cabe yang disebabkan oleh virus cegah dengan mengendalikan vektornya
  6. Gunakan insektisida yang tepat sasaran. Untuk trips, myzus dan bemisia gunakan insektisida berbahan aktif abamektin, karbosulfan, fipronil, imidakloprid. Untuk tungau gunakan akarisida seperti samite, mitac dan mesurol.
  7. Ketika mengaplikasi pestisida tambahkanlah pupuk daun untuk mempercepat pemulihan tanaman.
  8. Jika merasa selalu kesulitan mengendalikan keriting daun tanaman cabe maka hindari menanam cabe pada musim kemarau.
Jika berminat Gerbang Pertanian Juga menyediakan insektisida untuk mengendalikan hama keriting pada tanaman cabe yang disebabkan oleh thrips sp, apids sp dan myzus sp dengan harga yang sangat murah yaitu RP 30.000/ 100 gr. Insektisida tersebut adalah PROVIDOR 30 WP dengan bahan aktif Imidaklorprid 30 %.

Recent Posts