MENTERI PERTANIAN ORANG LAPANGAN

Indonesia adalah Negara Kaya Akan Sumber Daya Alam yang Luar Biasa, Indonesia adalah Negara Kaya Akan Sumber Daya Alam yang Luar Biasa, Indonesia adalah Negara Kaya Akan Sumber Daya Alam yang Luar Biasa

PRAKIRAAN CUACA TAHUN 2014 BMKG

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

PRAKIRAAN HARGA QURBAN 2014

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

This is default featured slide 5 title

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam. blogger theme by BTemplates4u.com.

Friday, September 19, 2014

Perkiraan Harga Kambing Sapi Qurban 2014

Perkiraan Harga Kambing Dan Sapi Qurban 2014 – Seperti tahun-tahun sebelumnya, harga hewan Qurban kambing dan sapi cenderung naik tiap tahunnya. Sebagai persiapan menyambut Ibadah Qurban 1435H, maka ada baiknya kita tahu perkiraan harga sapi dan kambing Qurban untuk tahun ini (1435 H/2014) sehingga kita dapat menentukan pilihan dengan lebih tepat. Untuk itu Pusat Pengadaan Hewan Qurban (PPHQ) AMM Kotagede mencoba memberikan perkiraan harga hewan Qurban tahun ini.
Untuk tahun lalu (2013) PPHQ AMM Kotagede menyediakan hewan Qurban (kambing) terkecil dengan harga 800ribuan, itu pun dengan jumlah yang sangat terbatas, dengan rata-rata harga kambing Qurban ukuran sedang saat itu antara 1,1jt – 2jt. Sedangkan untuk sapi Qurban terkecil mulai 12jutaan ke atas. Harga kambing dan sapi Qurban tersebut mengalami peningkatan dari tahun sebelumnya yaitu tahun 2012 dimana untuk kambing Qurban masih bisa didapatkan dengan harga 700ribuan dan sapi mulai 10-11jt an.
Dengan demikian, untuk tahun 2014 kemungkinan harga kambing dan sapi Qurban kembali mengalami peningkatan. Untuk kambing terkecil kemungkinan mendekati angka 1jt, dengan kisaran harga untuk ukuran sedang-besar antara 1,3jt – 2jt. Sedangkan untuk sapi Qurban kemungkinan mengalami peningkatan untuk yang terkecil seharga 12,5jt-13jutaan ke atas.
Di PPHQ AMM Kotagede sendiri harga hewan Qurban sudah mencakup biaya perawatan, pakan, dan transport untuk dalam kota Jogjakarta.
Perkiraan ini tidak bersifat paten atau pasti, tergantung harga hewan Qurban dari peternak. Informasi ini semata untuk membantu bagi anda yang pada tahun ini ingin melaksanakan Ibadah Qurban kembali. Mari persiapkan dari sekarang dan jangan sampai salah pilih, pastikan anda mendapatkan hewan Qurban terbaik dengan harga terbaik yang sehat, gemuk, dan layak.

Friday, September 12, 2014

Kebijakan Perdagangan Internasional Komoditas Pertanian Indonesia

Kebijakan perdagangan komoditas pertanian Indonesia dapat dibedakan atas peran komoditas itu dalam perdagangan internasional, yaitu: (1) Melakukan proteksi terhadap komoditas substitusi impor, khususnya komoditas-komoditas yang banyak diusahakan oleh petani. Komoditas yang dijadikan pilihan untuk mendapat proteksi adalah beras, jagung, kedelai dan gula; (2) Melakukan promosi terhadap komoditas-komoditas promosi ekspor, khususnya komoditas-komoditas perkebunan yang banyak diusahakan oleh petani. Komoditas yang dijadikan pilihan untuk mendapat promosi adalah karet, kopi, coklat, CPO dan lada.
Untuk operasionalisasi kebijakan yang harus diemban pemerintah, perlu diperhatikan tiga pilar yang merupakan elemen kebijakan yang terdapat dalam perjanjian perdagangan komoditas pertanian (AoA). Ketiga pilar itu adalah: (1) Akses pasar; (2) Subsidi domestik; dan (3) Subsidi ekspor. Ketiga pilar itu terkait yang satu dengan yang lainnya, sehingga tidaklah tepat apabila melihat perjanjian itu dari aspek akses pasar saja, dengan melupakan pilar yang lainnya. Subsidi ekspor komoditas pertanian yang dilakukan oleh suatu negara, misalnya, akan berdampak luas terhadap pasar ekspornya, sehingga berpengaruh buruk terhadap daya saing ekspor negara lain yang tidak memberikan subsidi ekspor. Demikian pula subsidi domestik yang diberikan oleh suatu negara terhadap petaninya, dapat menimbulkan persaingan yang tidak sehat, karena petani di negara itu mampu menghasilkan produk dengan biaya yang lebih rendah. Dalam konteks ini, perhatian yang selama ini diberikan oleh pemerintah terhadap akses pasar untuk komoditas beras, jagung, kedelai dan gula, hendaknya dapat diperluas dengan memanfaatkan pilar-pilar lainnya serta mencakup berbagai komoditas promosi ekspor.

Untuk lengkapnya sobat bisa download disini: Klik to Download


Sumber: http://pse.litbang.deptan.go.id/
Penulis : A. Husni Malian

Wednesday, September 10, 2014

Produk-Produk Indonesia Yang di Ekspor Ke Luar Negeri

Pengertian/ Definisi Ekspor dan Impor
Kegiatan menjual barang atau jasa ke negara lain disebut ekspor, sedangkan kegiatan membeli barang atau jasa dari negara lain disebut impor, kegiatan demikian itu akan menghasilkan devisa bagi negara. Devisa merupakan masuknya uang asing kenegara kita dapat digunakan untuk membayar pembelian atas impor dan jasa dari luar negeri.Kegiatan impor dilakukan untuk memenuhi kebutuhan rakyat. Produk impor merupakan barang-barang yang tidak dapat dihasilkan atau negara yang sudah dapat dihasilkan,tetapi tidak dapat mencukupi kebutuhan rakyat.

Keuntungan Ekspor
Keuntungan ekspor antara lain adalah :
1). Memperluas Pasar bagi Produk Indonesia 
Kegiatan ekspor merupakan salah satu cara untuk memasarkan produk Indonesia ke luar negeri. Contohnya batik Indonesia yang mulai dikenal di dunia, jika permintaan batik di luar negeri meningkat maka produsen batik di indonesia akan semakin luas pemasaranya. Dengan demikian, kegiatan produksi batik di Indonesia akan semakin berkembang.

2). Memperluas Lapangan Kerja 
Kegiatan ekspor akan membuka lapangan kerja bagi masyarakat. hal ini berhubungan dengan semakin luasnya pasar produk indonesia.kegiatan produksi di dalam negeri akan meningkat. Semakin banyak pula tenaga kerja yang dibutuhkan sehingga lapangan kerja semakin luas.

Produk Ekspor Dan Impor Dari Negara Indonesia
Secara umum produk ekspor dan impor dapat dibedakan menjadi dua yaitu barang migasdan barang non migas. Barang migas atau minyak bumi dan gas adalah barang tambang yang berupa minyak bumi dan gas. Barang non migas adalah barang-barang yangukan berupa minyak bumi dan gas, seperti hasil perkebunan, pertanian, peternakan, perikanan dan hasil pertambangan yang bukan berupa minyak bumi dan gas.

Produk ekspor Indonesia
Produk ekspor Indonesia meliputi hasil produk pertanian, hasil hutan, hasil perikanan, hasil pertambangan, hasil industri dan begitupun juga jasa.
a.       Hasil Pertanian
Contoh karet, kopi kelapa sawit, cengkeh, teh, lada, kina, tembakau dan cokelat.
b.      Hasil Hutan
Contoh kayu dan rotan. Ekspor  kayu atau rotan tidak boleh dalam bentuk kayu gelondongan atau bahan mentah, namun dalam bentuk barang setengah jadi maupun barang jadi, seperti mebel.
c.       Hasil Perikanan
Hasil perikanan yang banyak di ekspor merupakan hasil dari laut produk ekspor hasil perikanan, antara lain ikan tuna, cakalang, udang dan bandeng.
d.      Hasil Pertambangan
Contoh barang tambang yang di ekspor timah, alumunium, batu bara tembaga dan emas.
e.       Hasil Industri
Contoh semen, pupuk, tekstil, dan pakaian jadi.
f.       Jasa
Dalam bidang jasa, Indonesia mengirim tenaga kerja keluar negeri antara lain ke malaysia dan negara-negara timur tengah.

Tidak semua barang boleh di ekspor, beberapa barang yang dilarang diekspor diantaranya adalah:
·         Ikan dalam keadaan hidup : Ikan dan anak ikan Arwana jenis Sclerophages Formosus, Benih ikan Sidat (Anguila SPP) dibawah ukuran 5 mm, Ikan hias air tawar jenis Botia macracanthus ukuran 15 cm keatas, Udang galah air tawar dibawah ukuran 8 cm, Induk dan calon induk Udang Penaeidae, Karet bongkah.
·         Barang kuno yang bernilai kebudayaan (benda cagar budaya);
·         Binatang liar dan tumbuhan alam yang dilindungi yang termasuk dalam Appendix 1 dan 3 CITES.
·         Bahan-bahan remiling : Slabs, Lumps, Scraps, Karet Tanah, Unsmoked Shets, Blanked sheets, Smoked lebih rendah dari kualitas IV, Remilled 4, Cutting C, Blanked D. off, Kulit mentah, pickled dan wet blue dari binatang melata (kecuali kulit buaya dalam benuk wet blue).2. Aneka Cara Ekspor

Ekspor Biasa
Dalam hal ini barang di kirim ke luar negeri sesuai dengan peraturan umum yang berlaku, yang ditujukan kepada pembeli di luar negeri untuk memenuhi suatu transaksi yang sebelumnya sudah diadakan dengan importir di luar negeri. Sesuai dengan perturan devisa yang berlaku maka hasil devisa yang di peroleh dari ekspor ini dapat di jual kepada Bank Indonesia, sedangkan eksportir menerima pemabayaran dalam mata uang rupiah sesuai dengan penatapan nilai kurs valuta asing yang ditentukan dalam bursa valuta, atau juga dapat dipakai sendiri oleh eksportir.

Barter
Barter adalah pengiriman barang-barang ke luar negeri untuk ditukarkan langsung dengan barang, tidak menerima pembayaran di dalam mata uang rupiah. Kalau kiata mempelajari sejarah masyarakat primitif ataupun masyarkat suku terasing, maka kebanyakan cara yang mereka tempuh dalam memenuhi kebutuhannya adalah dengan cara “tukar menukar” apa yang dipunyai (diproduksinya) dengan barang apa yang di miliki tetangganya.

Konsinyasi (Consignment)
Adalah pengiriman barang ke luar negeri untuk di jual sedangkan hasil penjualannya diperlakukan sama dengan hasil ekspor biasa. Jadi, dalam hal ini barang di kirim ke luar negeri bukan untuk ditukarkan dengan barang lain seperti dalam hal barter, dan juga bukan untuk memenuhi suatu transaksi yang sebelumnya sudah dilakukan eperti dalam hal ekspor biasa. Tegasnya di dalam pengiriman barang sebagai barang konsinyasi belum ada pembeli yang tertentu diluar negeri.

Package-Deal
Dalam rangka memperluas pasaran hasil bumi Indonesia terutama dengan negara sosialis, pemerintah adakalanya mengadakan perjanjian perdagangan (trade agreement) dengan salah satu negara pada perjanjian ditetapkan sejumlah barang tertentu akan diekspor ke negara itu dan sebaliknya dan dari negara itu akan diimpor sejumlah jenis barang yang dihasilkan dari negara tersebut dan yang kiranya kita butuhkan. Pada prinsipnya semacam barter, namun terdiri dari aneka komoditi.

Penyelundupan (smuggling)
Di negara manapun hampir selalu ada, baik perorangan maupun badan-badan usaha yang hanya memikirkan kepentingan dan keuntungan diri sendiri tanpa mengindahkan peraturan yang berlaku. Ada saja dalam perdagangan luar negeri golongan yang berusaha lolos dari peraturan pemerintah yang dianggapnya merugikan kepentingannya.

Tabel Ekspor Indonesia
No
Nama Negara
Barang Ekspor
1
Inggris
Tembakau, karet, kelapa sawit, teh, kopi
2
Belanda
Kopra, kopi, rempah-rempah, dan hasil perkebunan
3
Belgia dan Luxemburg
Karet, kopi, tembakau, udang, lada putih, kayu gergajian, benang tenun, pakaian jadi, kayu lapis
4
Jepang
Minyak bumi, biji logam, alumunium, kayu, bahan makanan
5
Amerika
Minyak bumi dan elpiji
6
Perancis
Bahan baku, industri parfum, karet, kelapa sawit
7
Jerman
Karet, tembaga, timah, minyak bumi
8
Thailand
Ikan segar dan beku, pupuk urea, besi baja, pakaian jadi, semen, batu bara, kertas, kayu lapis, tembakau, besi
9
Singapura
Minyak mentah, karet alam, timah, kayu lapis, kosmetik, kertas, alat telkom, alat tulis
10
Brunei Darussalam
Semen dan barang bangunan, pakaian jadi, mineral hasil olahan, tepung, rokok
11
Australia
Batu bara, pupuk urea, minyak mentah, sepatu, kayu lapis, teh,
12
Malaysia
Batubara, pupuk urea, minyak mentah, tembakau
13
Selandia Baru
Kopi, pakaian jadi, minyak mentah, sepatu, kayu lapis, teh
14
Saudi Arabia
Kayu lapis, teh
15
RRC
Teh, kayu lapis, semen, kopi, timah, tembaga
16
Mesir
Teh, kayu lapis, semen, kopi, timah, tembaga
17
Madagaskar
Kayu, teh, kopi, karet, kertas
18
Afrika Selatan
Barang logam, bahan makanan, bahan tekstil, pakaian jadi,
19
India
Mesin, bahan makanan, tkstil, pakaian jadi, alkohol, minyak bumi
20
Philipina
Minyak bumi, bahan pupuk, semen


Teori keuntungan komparatif:
Alasan negara melakukan perdagangan internasional didasari oleh teori Keuntungan Komparatif (comparative advantage) yang dikembangkan oleh David Ricardo, Menurutnya, perdagangan internasional terjadi bila ada perbedaan keunggulan komparatif antarnegara. Ia berpendapat bahwa keunggulan komparatif akan tercapai jika suatu negara mampu memproduksi barang dan jasa lebih banyak dengan biaya yang lebih murah daripada negara lainnya. Sebagai contoh, Indonesia dan Malaysia sama-sama memproduksi kopi dan timah. Indonesia mampu memproduksi kopi secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi timah secara efisien dan murah. Sebaliknya,

Malaysia mampu dalam memproduksi timah secara efisien dan dengan biaya yang murah, tetapi tidak mampu memproduksi kopi secara efisien dan murah. Dengan demikian, Indonesia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi kopi dan Malaysia memiliki keunggulan komparatif dalam memproduksi timah.Perdagangan akan saling menguntungkan jika kedua negara bersedia bertukar kopi dan timah.

Triliunan Rupiah Raib dalam Asap Riau

Setiap tahunnya, kebakaran hutan dan lahan gambut di Riau tidak menyisakan apa-apa kecuali kerugian. Dari tahun ke tahun kerugian semakin besar bahkan mencapai angka Triliunan.
Dari bibir ke bibir, orang membicarakan Riau sebagai daerah kaya. Sebagai provinsi terkaya nomor dua setelah Kalimantan Timur, biaya hidup di provinsi yang beribukota di Pekanbaru ini juga tinggi. 
Ironisnya, kekayaan 8,5 triliun yang didapat dari APBD setiap tahun tidak sebanding dengan kerugian yang didapatkan akibat kebakaran lahan gambut. Bahkan tahun ini, kerugian mencapai 20 triliun. Hanya dalam dua bulan, Riau mengalami kerugian yang mencapai dua kali lipat dari APBD-nya.
Begitu besar biaya yang harus ditanggung oleh Riau hanya untuk belanja asap dari lahan gambut yang terbakar. Biaya ini terus meningkat setiap tahun, seiring dengan semakin bertambahnya luas lahan gambut yang terbakar. Tahun lalu kebakaran menghanguskan16.000 hektar, tetapi pada Februari tahun ini saja kebakaran telah menyebabkan 21.900 hektar hutan dan lahan gambut terbakar.
Belum lagi biaya yang diperlukan untuk pemadaman dan penanggulangan bencana nasional yang mencapai angka 150 miliar. Angka fantastis untuk mengusir asap dari langit Riau. Tidak hanya melumpuhkan kegiatan ekonomi dalam waktu dua bulan, bencana asap di Riau juga menyebabkan sekolah harus diliburkan, bandara lumpuh sertaribuan warga yang terserang ISPA (Infeksi saluran Pernafasan Atas).
Dalam siaran persnya, Rektor Universitas Riau, Prof.Dr.Ir. H. Aras Mulyadi, DEAmenyebutkan bahwa bencana asap yang disebabkan terbakarnya lahan gambut di Riau mengindikasikan kegagalan pendekatan pembangunan ekonomi terutama pemanfaatan lahan gambut.
Pembukaan lahan gambut untuk perkebunan kelapa sawit menjadikan Riau sebagai bom waktu kebakaran dengan bahan bakar (gambut kering) yang ada dimana-mana. Lahan gambut yang dibuka untuk perkebunan kelapa sawit membutuhkanpengeringan yang dilakukan dengan membangun kanal-kanal di lahan gambut. Lahan gambut yang kering menjadi mudah terbakar karena tidak ada air sebagai pemadamnya. Bahkan api bisa meloncat diantara kanal-kanal dan berada jauh di dalam tanah, sehingga tidak terlihat.
Saya pernah berbincang dengan Bu Saidah (51), warga yang menjadi saksi dari kebakaran lahan gambut di Bukit Lengkung Kabupaten Bengkalis. Dia bercerita, “Tak tahulah bu, api tu seperti setan. Bisa balik lagi api tu, padahal sudah lewat”. Api begitu cepat, tidak terlihat tiba-tiba muncul begitu saja melahap apapun yang ada disekitarnya.
Fenomena api yang meloncat ini dibenarkan oleh Dr. Haris Gunawan, Direktur Pusat Studi bencana Universitas Riau. Menurut beliau, permukaan atas dan bawah gambut yang kering merupakan kombinasi mengapa kebakaran di lahan gambut sulit untuk dipadamkan. “Kalau terjadi kebakaran, apinya kelihatan. Itu terbakarnya pada lapisan gambut bagian atas. Tetapi kalau sudah terbakar di lapisan bawah, yang akan muncul asap putih dan itu sulit untuk dipadamkan”.
Lahan gambut seharusnya tidak dibakar, apalagi untuk perkebunan kelapa sawit. Jika dibiarkan ancaman asap akan terus meneror Riau. Jika Presiden SBY tidak segera membuat kebijakan yang kuat untuk melindungi lahan gambut, Riau akan terus menderita karena asap. Dan triliunan akan menguap bersama abu hitam pekat di langit Riau. Kita benar-benar berkejaran dengan waktu. Mari melawan asap!

Peningkatan Kesejahteraan Petani dan Masyarakat Pedesaan Melalui Teknologi dan Komunikasi

Masalah ketahanan pangan saat ini sedang menjadi sorotan setelah kebijakan pemerintah untuk melakukan impor beberapa tanaman pangan guna mencukupi kebutuhan dalam negeri. Isu yang cukup krusial dalam ketahanan pangan adalah soal ketersediaan. Saat ini perbandingan antara kapasitas produksi tanaman pangan dalam negeri dengan tingkat konsumsi tidak seimbang. Untuk beberapa tanaman pangan seperti beras, jagung, kedelai, gandum, selisih antara  tingkat produksi dan konsumsi rata-rata mencapai 10 juta ton. Kekurangan produksi ini ditutup dengan impor yang volumenya  terus meningkat tiap tahun, sehingga tingkat ketergantungan pangan Nasional secara keseluruhan terhadap impor adalah 12,9% (FAO, 2013)
Perubahan iklim, harga pangan dunia yang fluktuatif, tingkat konversi lahan pertanian ke non pertanian yang tinggi, insentif rendah bagi pelaku usaha tani merupakan beberapa faktor yang menyebabkan masalah ketersediaan pangan tak kunjung selesai. (Dokumen Agenda Riset Nasional, 2006). Untuk mengatasi hal tersebut, pemerintah melalui Kementerian Riset dan Teknologi telah merancang Agenda Riset Nasional dalam bidang Ketahanan Pangan. Ada beberapa tema riset utama, salah satunya adalah Peningkatan Kesejahteraan Petani dan Masyarakat Pedesaan.
Petani merupakan produsen tanaman pangan. Menurut data BPS pada Februari 2009, prosentase angkatan kerja yang bekerja di sektor pertanian jumlahnya mencapai 42,1%. Meskipun menyerap sebagian besar tenaga kerja, namun pendapatan di sektor ini tidak menjanjikan. Sebagian besar petani Indonesia hanya memiliki lahan kurang dari 0,5 Ha. Mereka inilah yang disebut dengan petani gurem (Dokumen Agenda Riset Nasional, 2006).  Tidak mengherankan jika sebagian besar (63,5%) penduduk miskin Indonesia ada di pedesaan. (BPS, Maret 2009)
Salah satu tujuan riset dalam peningkatan kesejahteraan petani dan masyarakat pedesaan adalah dengan menciptakan informasi (berbasis sms) untuk informasi pasar komoditas pertanian yang dapat di akses petani, peternak dan nelayan. Jika teknologi ini telah mampu disediakan untuk petani, maka pada tahun 2025 nanti diharapkan petani Indonesia sudah mempunyai system informasi pasar komoditas pertanian yang dapat diakses petani, peternak dan nelayan. Selain itu, tersedia pula system informasi iklim dan cuaca untuk basis penentuan musim tanam dan penangkapan ikan (Agenda Riset Nasional, 2006)
Menurut laporan Bank Dunia, beberapa Negara di Afrika dan Asia telah mengeluarkan kebijakan untuk menyediakan teknologi informasi ini kepada para petaninya. Dalam laporan yang berjudul, ‘Spreading the Wings: From Economic Growth to Shared Prosperity’, Bank Dunia menyebutkan bahwa penggunaanmobile phone pada petani di Mozambik, Kenya dan Uganda telah meningkatkan pendapatan petani. Hal ini disebabkan, petani di Negara-negara tersebut sudah memiliki informasi tentang harga, cuaca, dan beberapa informasi pertanian lainnya. Dengan dimilikinya, informasi tersebut, petani punya bargaining power untuk menentukan harga jual (The East and Southeast Africa Agriculture Network, 2013).
Temuan serupa juga terjadi di India, yakni sekitar 53% rumah tangga telah memiliki mobile phone. Mobile phone atau yang lebih dikenal dengan istilah handphone ini, selain menyediakan layanan dasarnya juga menyediakan informasi seputar pertanian. Petani di India melalui telepon seluler yang dimiliki dapat langsung mengakses informasi tentang pupuk, cuaca, musim panen dan harga. Melalui telepon seluler ini pula, para petani bisa saling bertukar informasi. Karena kondisi ini, petani di India pun mampu meningkatkan produktivitas dan pendapatan. (The Guardian, 2012)
Bagaimana dengan Indonesia? Menurut Asosiasi Telekomunikasi Indonesia, pada tahun 2011, jumlah pelanggan telepon seluler di Indonesia mencapai lebih dari 240 juta pelanggan pada akhir tahun 2011 lalu, naik 60 juta pelanggan dibanding tahun 2010 (Nugraha, 2012). Tingginya angka penggunaan telepon seluler ini sayangnya tidak berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan petani. Meskipun saat ini pemerintah pun telah mengeluarkan program Internet Masuk Desa, hal tersebut juga belum cukup efektif untuk memberi insentif bagi petani.
Mensejahterakan petani bukan hanya tentang meningkatkan pendapatan sekelompok masyarakat. Namun petani adalah salah satu elemen penting dalam mata rantai kedaulatan pangan. Jika pemerintah mampu menciptakan sebuah kebijakan yang mendorong perbaikan kehidupan petani, maka produktivitas pertanian akan meningkat. Dengan demikian, kapasitas produksi akan mampu mengimbangi laju kebutuhan pangan penduduk. Kini, teknologi sudah tersedia, saatnya bagi seluruh elemen bangsa bekerja bersama-sama untuk memperbaiki wajah pertanian nasional. (NI)
Referensi:
Dokumen Agenda Riset Nasional 2010-2014
Penelitian, Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan Bidang Ketahanan Pangan. 2006. Buku Putih, Indonesia 2005-2025.

Tuesday, September 9, 2014

Jokowi Optimistis Indonesia Bisa Meraih Kedaulatan Pangan


Surabaya - Presiden terpilih Joko Widodo optimistis bisa meraih kedaulatan pangan, energi serta infrastruktur jika pembangunan dibarengi dengan persiapan ekonomi yang baik dan benar.
"Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Nahdlatul Ulama ini basisnya ada di pertanian. Masalahnya, negara luas, air banyak, beras impor, gula, jagung, buah, kedelai, garam, cabai, bawang putih impor. Kok bisa impor semua. Mesti ada kesalahan manajemen," katanya saat memberikan sambutan pada kegiatan Muktamar PKB di Empire Palace Surabaya, Minggu (31/8).
Ia mengatakan, untuk kabinet yang memegang kementerian ini adalah menteri yang mempunyai pengetahuan lapangan kuat bukan yang teoritis karena hal ini adalah masalah di lapangan.
"Kalau mampu menyiapkan air, pupuk dan benih tepat sasaran petani, swasembada beras bukan persoalan besar. Ini persoalan mudah. Tapi memang soal penguasaan," katanya.
Ia menyebutkan, untuk lahan satu hektar tanaman padi di Indonesia hanya bisa memanen sekitar empat sampai lima ton, tetapi di negara lain bisa panen sampai dengan 12 ton.
"Kalau varietasnya tepat, maka hasil panennya bisa mencapai 8 ton dan hal itu bisa untuk swasembada pangan. Ada kok benihnya untuk itu," katanya.
Dirinya menyebutkan, kalau daerah tersebut merupakan wilayah tadah hujan. Maka sebaiknya dibuatkan bendungan, supaya panennya bisa dilakukan berkali-kali karena kalau mencetak sawah baru lagi, biayanya sangat mahal.
"Kami ingin bangun sawah 1 juta hektare, akan lebih banyak sekali. Target swasembada pangan 2-3 tahun harus bisa selesaikan," katanya optimistis.
Untuk menteri yang dipilih, kata dia, jangan hanya mau memberikan konsep, tetapi harus mau turun ke lapangan dan bekerja secara nyata karena yang dibutuhkan saat ini adalah eksekusi di lapangan.
"Kami yakin, segala target dan capaian yang diinginkan bisa dilakukan dengan mudah kalau mau melakukannya dengan baik dan jujur," katanya.
Penulis: /FER
Sumber: Antara

Abaikan Pertanian, Struktur Ekonomi Indonesia Jadi Rapuh

Jakarta - Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) memandang meskipun Indonesia mengalami pertumbuhan ekonomi yang baik, namun struktur ekonominya masih rapuh.

"Indonesia punya struktur ekonomi rapuh, walaupun pertumbuhan ekonomi tinggi 6%, bahkan negara maju lainnya tidak pernah tumbuh di atas 4%," kata Direktur INDEF Enny Sri Hartati, dalam acara diskusi Revolusi Mental Pertanian Sebagai Landasan Kemandirian Ekonomi, di JKW Center, Jakarta, Minggu (25/5/2014).

Ia mengungkapkan, rapuhnya ekonomi Indonesia disebabkan oleh tersingkirnya sektor penyokong utama yang berperan terhadap peningkatan kesejahteraan rakyat, yaitu sektor pertanian.

"Pertanian mempunyai dampak nilai tambah kepada perekonomian nasional, dampak kepada tenaga kerja, dampak terhadap mengurangi kemiskinan, tetap justru terpinggirkan," tuturnya.

Saat ini, Enny melanjutkan, sektor pertanian sebenarnya dapat menjadi sumber pemasok bahan baku industri yang ada di Indonesia, sehingga tidak tergantung impor. Dengan begitu, industri dapat berkembang dan menciptakan lapangan kerja.

"Sektor pertanian malah mengalami degradasi, sektor ini bukan menyerap tenaga kerja justru mendepak tenaga kerja, dampak ini luar biasa," ungkapnya.

Sektor pertanian memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Ia menyebutkan seperti industri perternakan, 80% Indonesia melakukan importasi kulit dan susu untuk memenuhi kebutuhannya. 

"Seandainya saja sektor pertenakan tumbuh, berapa tenaga kerja terserap? Kedua, Industri berbasis peternakan sapi ini pasti konsumsinya besar adalah susu kedua alas kaki. Bahan baku berbasis kulit sekarang 80% tergantung terhadap impor," pungkasnya. (Pew/Gdn)

Credit: Arthur Gideon
Sumber: liputan6.com

Pengangguran dan Pertanian Harus Jadi Fokus Pemerintahan Jokowi

JAKARTA - Aliansi Masyarakat Sipil untuk Indonesia Hebat (Almisbat) mencium adanya upaya sistematis yang dilakukan oleh pihak-pihak yang mengharapkan kebangkitan kekuatan Orde Baru. Masyarakat diajak rindu terhadap orde baru, atau kerinduan terhadap kejayaan Indonesia, tetapi melupakan sisi kelam otorianisme-nya.
“Untuk itu, Almisbat mengusulkan kepada calon presiden (capres) Joko Widodo (Jokowi) untuk fokus pada dua agenda kesejahteraan rakyat jika dipercaya memimpin Indonesia ke depan,” kata Sekjen Almisbat, Hendrik Sirait, Minggu (11/5/2014).
Sikap politik tersebut merupakan perasan dari hasil Temu Raya Nasional Almisbat yang berlangsung selama tiga hari di Jakarta.
Kedua fokus agenda tersebut adalah, pertama mengatasi pengangguran dengan menciptakan lapangan pekerjaan. Salah satu cara yang bisa ditempuh adalah membangun direktorat jenderal baru di Kementerian Tenaga Kerja yang mengurusi masalah pengangguran.
“Direktorat ini yang akan bertugas untuk menciptakan lapangan kerja. Karena, adalah hak bagi semua angkatan kerja untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Dan itu merupakan tugas negara yang dijamin dalam konstitusi Republik Indonesia, memberikan jaminan pekerjaan yang layak terhadap warga negaranya,” ujarnya.
Kedua, Indonesia sebagai negara agaris harus berdaulat di bidang pangan. Sumber kemiskinan menurut data statistik itu ada di wilayah pedesaan, yang khususnya menimpa petani di lahan kering. Mereka masuk ke lembah kemiskinan karena tidak memiliki akses terhadap lahan, dan abainya pemerintah dalam mengupayakan peningkatan produktivitas petani lahan kering, lahan pertanian yang tak memiliki sistem irigasi.
Koordinator Kampanye Almisbat Indra P Simatupang menambahkan, apabila jumlah lahan pertanian kering yang luasnya mencapai 5,7 juta hektare ini ditingkatkan produktivitasnya, dari yang sebelumnya hanya mampu menghasilkan 3 -3,5 ton gabah/per hektare menjadi 4-5,5 ton per hektare, maka dapat dipastikan Indonesia tidak perlu lagi mengimpor beras dari vietnam.
“Program pemberdayaan serta subsidi bagi petani miskin mutlak dilakukan. Pemerintahan Jokowi harus mampu menyediakan ketersediaan bibit dan pupuk untuk para petani miskin. Dengan peningkatan produktivitas, kesejahteraan petani akan terwujud,” ujarnya.
Menurut Indra, dua program pokok ini menjadi syarat utama yang perlu dilakukan pemerintahan Jokowi untuk mewujudkan kesejahteraan rakyat. “Dan kami meyakini Jokowi mendengar dan merasakan jerit penderitaan petani miskin dan para penganggur,” tuturnya.

Recent Posts